Meneropong Kehidupan Warga Pebassian Melalui Literasi

Rencana tak terjadwal, demikianlah ungkapan yang cocok untuk suatu kegiatan rutin yang sering dilakukan namun tidak menentu waktunya. Lagi-lagi secara dadakan niat untuk menjalankan aksi literasi dengan rekan-rekan Mamasa Pustaka, kembali muncul usai menikmati seduhan kopi disalah satu warung kopi di Kota Mamasa, Selasa (26/9/2017).

Laporan: Hapri Nelpan

MAMASA,SR. – Matahari terbit sempurna di siang itu, dingin berganti dengan panas, suara bising kendaraan lalu lalang silih berganti, begitulah kondisi Kota Mamasa saat di hari kerja. Usai mengelilingi Kota Mamasa untuk mengejar topik berita masing-masing akhirnya kembali berkumpul dengan rekan-rekan kuli tinta. Belum bertemu dengan narasumber yang dituju, demikian kendala yang sama dirasakan sehingga rencana dadakan untuk melakukan aksi literasi sembari mencari tajuk berita menarik di pelosok desa menjadi alternatif utama.
Tak membuang waktu lama saya bersama Risal, Frendy dan Semuel memacu roda dua menuju Desa Pebassian yang terletak di bagian barat Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa. Letak Pabassian yang berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Balla harus menempuh perjalanan sekira 10 kilometer dari pusat Kota Mamasa. Perjalanan itu cukup menguras energi, jalannya berkelok-kelok, berlubang, mendaki dan curam membuat sesekali motor matic jenis Honda Beat yang saya pakai terkadang kandas.
Proses pembangunan jalan beton antar Desa Lembana Salulo (Lemsa) dan Desa Pebassian memang sedang dikerjakan. Hal itu terlihat saat melintas di wilayah itu, sejumlah warga yang melawan sengatan matahari seolah tak mengenal lelah mencari nafkah di proyek tersebut.
Sementara roda dua kupacu pukul 13.00 Wita, terlihat dari kejauhan sekelompok anak sekolah dengan seragam putih biru berjalan kaki menuju Pebassian setelah jam pulang sekolah. Dari dekat terlihat keringat mereka bercucuran akibat lelah dan panas matahari.
Rambalangi Kelas VII SMP 03 Lembana Salulo berjalan agak di belakang sehingga tumpangan kendaraan saya tawarkan. Mengetahui bahasa daerah Mamasa membuat suasana terasa akrab seketika. Siswa SMP itu yang akrab disapa Ramba tak sungkan diajak bercerita selama di perjalanan.
Bangun subuh dan pulang sore, begitulah cara Ramba dan rekan-rekannya dalam menuntut ilmu di tingkat Sekolah Menengah Pertama di Desa Lemsa lantaran Desa Pebassian belum memiliki SMP. Berjalan kaki menuju sekolah sekira empat kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua jam sudah menjadi kebiasaan mereka, sehingga terkadang sepatu yang digunakan hanya bertahan hingga tiga bulan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Lemsa-Pebassian akhirnya sampai di tujuan. Buku-buku yang dibawa dibuka, setelah sedikit penjelasan ke masyarakat, sejumlah anak-anak mulai berdatangan dan membaca buku yang kami bawa.
Seorang warga Desa Pebassian, Depparepo saat berbincang-bincang mengatakan, Jumlah anak SMP di Pebassian mencapai sekitar 60 orang dari setiap kelas dan tiap tahun diperkirakan jumlah siswa tamatan SD sekira 20 orang. “Kami berharap ada perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) Mamasa untuk mendirikan SMP di Pebassian,” paparnya.
Sekitar satu jam berbincang-bincang dengan masyarakat, terdengar panggilan dari salah satu warga dan menawarkan seduhan kopi dengan sepiring pisang di kediamannya. Arah jam tepat pukul 14.20 Wita lambung mulai perih tanpa rasa sungkan seduhan kopi kuseruput. Saat menoleh ke pisang yang disajikan ternyata tinggal dua buah, Frendy dan Semuel mendahului. Mungkin rasa lapar mereka yang tidak tertahankan sehingga menguyahpun tak sempat kulihat.
Desa Pebassian memiliki keunikan tersendiri, hampir setiap ibu rumah tangga di wilayah ini menekuni usaha tenun yang merupakan warisan turun-temurun.
Magdalena seorang warga Pebassian menerangkan, ilmu tenun diketahuinya dari orang tua sehingga sejak kecil mengisi waktu luang dengan menenun. Katanya, untuk bahan baju adat Mamasa membutuhkan waktu dua Minggu pembuatannya, adapun jumlah benang yang digunakan sekitar 5 dos, sementara pembuatan sarung tenun membutuhkan waktu 3 minggu dengan jumlah benang 8 dos. Magdalena mengungkapkan, harga benang perdos Rp.15.000-Rp.17.000. Bahan baju adat dapat dijual Rp 350.000-400.000 sementara sarung Rp 500.000. Ia menjelaskan, tingkat kerumitan dalam menenun yakni membentuk corak atau motif tenun.
Sementara Tasik Minanga (50) menjelaskan, tenun ditekuninya sekitar 20 tahun. Katanya, Ilmu tenun jika ditekuni hanya membutuhkan waktu tiga hari mempelajarinya. Tasik mengatakan, jika tidak ada yang memesan langsung kain tenun buatannya, mereka tetap memenun namun hanya diupah oleh seorang pengusaha. “Keuntungan untuk bahan baju adat kami hanya memperoleh Rp 30.000 per lembar. Sementara untuk upah pembuatan sarung Rp.150.000. Hal ini dilakukan lantaran kekurangan modal dan pemasaran yang masih sulit,”tuturnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *