Bangun Kesadaran dengan Kacamata Sejarah

Oleh : Yusman

Sebagai bangsa Indonesia, tentunya kita tahu 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan nasional. Namun dari momentum tersebut, perlu kita ketahui latar belakang ditetapkannya tanggal 10 November sebagai hari pahlawan..

Sebagaimana dalam sejarah bahwa pada saat itu pejuang kita melakukan perang pertama kali dengan pasukan asing setelah proklamasi kemerdekaan.

Kejadian tersebutpun menjadi satu pertempuran terbesar dalam sejarah revolusi nasional dan sekaligus menjadi simbol nasional dalam melawan kolonialisme. Pertempuran tersebut terjadi di kota Surabaya, momentum inilah yang kemudian menjadi legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Mengenang kembali pertempuran Surabaya 72 tahun silam, dimana para tentara dan tokoh-tokoh pejuang Indonesia yang pro kemerdekaan berperang melawan tentara Inggris dan Belanda yang merupakan bagian dari revolusi nasional Indonesia.

Peristiwa yang berlangsung di Surabaya tersebut karena adanya perlawanan rakyat terhadap pasukan NICA yang dipimpin oleh Mr. Ploegman tepanya di hotel Yamato, pasukan pimpinan Ploegman mengibarkan bendera Belanda di puncak hotel Yamato. Hal tersebutlah yang membuat amarah warga Surabaya memuncak karena dinilai menghina kedaulatan bangsa yang sudah diproklamirkan 17 Agustus 1945.

Peristiwa itu membuat sebagian pemuda bertindak tegas dengan menaiki hotel dan merobek warna Biru pada bendera Belanda, sehingga yang tersisa hanya Merah dan Putih, peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Oktober 1945 yang melatar belakangi pertempuran 10 November.

Pada tanggal 29 Oktober diadakan penandatanganan gencatan senjata antar kedua pihak, tetapi setelah penandatanganan itu pun, bentrokan senjata masih saja terjadi. Puncak bentrokan terjadi saat pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, brigjen Mallaby terbunuh. Mobil yang dinaikinya berpapasan dengan kelompok milisi Indonesia yang akhirnya terjadi baku tembak karena kesalah pahaman yang kemudian membuat brigjen Mallaby tewas.

Kemudian pada tanggal 10 November 1945, tentara Inggris melakukan aksi Ricklef yang dibalas oleh ribuan penduduk kota. Akan tetapi dalam 3 hari saja, Inggris berhasil menguasai kota.Itulah sekilas tentang perjuangan yang melatar belakangi momentum hari pahlawan nasional tepatnya tanggal 10 November.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarahnya” begitulah kata bung Karno. Jujur, berani, rela mengorbankan segalanya demi kebaikan bersama itulah karakteristik pejuang terdahulu yang harus kita warisi sebagai pemuda dan penerus bangsa.

Menyikapi permasalahan Indonesia saat ini, bangsa ini memang membutuhkan sosok pahlawan sebagai awal dari kebebasan dan kemerdekaan yang utuh, terutama pahlawan yang akan mampu menbawa Indonesia yang damai, adil dan demokratis. Apalagi saat ini bangsa kita diwarnai kasus korupsi yang sudah mencapai stadium akhir karena sudah melibatkan para pejabat tinggi dan bahkan lebih mirisnya lagi, sudah melibatkan para penegak hukumnya sendiri. Menjadi seorang pahlawan pun harus dimulai untuk diri sendiri dan keluarga. Jadi jangan jadikan hari pahlawan ini sebagai unsur seremoni belaka tanpa penghayatan nilai-nilai perjuangan pahlawan kita. Sebagai generasi muda sudah saatnya kita memaknai momentum ini untuk direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat kondisi generasi saat ini, marilah pemuda masa depan bangsa memerangi ketidakadilan dan penindasan dengan berpegang teguh pada prinsip pejuang terdahulu kita yakni jujur, berani dan mengorbankan segalanya demi tercapainya cita cita bersama, yang dimulai dari diri sendiri seperti kasus korupsi, tawuran, narkotika, dan perilaku kenakalan remaja yang mengganggu kesejahteraan negara karena semakin jauh generasi dari kegiatan produktif dan positif, semakin jauh juga jalan bagi Indonesia menjadi negara yang makmur karena sang pembawa perubahan belum memahami peran mereka sesungguhnya.

Generasi muda sudah saatnya terbangun dan sadar akan panggilan bangsa untuk peka terhadap masalah sosial, lingkungan dan politik sebagai kelanjutan dari perjuangan menuju bangsa yang merdeka seutuhnya serta mampu berdikari dibidang sosial,ekonomi dan politik. (Penulis adalah mahasiswa Unasman Sulbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *